Home » Social Rant

Keluarga VS Pernikahan

leonniefm 28 August 2008 Social Rant 100 views 4 CommentsPrint This Post Print This Post Email This Post Email This Post
Saya dan Fajar mengetahui bahwa saya hamil ketika umur kehamilan saya sudah 4 bulan. Saya begitu tidak perhatian dengan kondisi tubuh saya sampai-sampai bingung menghitung absennya si tamu bulanan dan malah mengira sesuatu yang patologis telah terjadi. Waktu si dokter genekologi itu bilang, “ya ampun itu mah tanda-tanda hamil bukan sakit, mbak!” Saya tidak yakin sampai terlihat di layar USG jantung kecil yang berdegup-degup. Serta merta saya dan Fajar jatuh cinta untuk kesekian kalinya dan kali ini melibatkan si kecil.Lalu kami berdua berdiskusi tentang langkas selanjutnya. Menikah setelah atau sebelum kelahiran. Ya, kami waktu itu belum resmi menikah. Buat saya pribadi, persetan dengan institusi formal. Tapi kali ini urusannya berbeda. Kami menimbang baik buruknya. Jangan pikir kami memperhitungkan apa kata si A dan si B, apalagi si C. Yang kami pertimbangkan adalah baik - buruk bagi anak kami dan masa depannya. Pertimbangan logis mengatakan pernikahan akan melindungi dia di mata hukum dan penting bagi kami agar dia tidak cacat di mata hukum. Jadi kami menikah.

Pernikahan kami sudah 4 tahun yang lalu dan kami kini sudah memiliki 3 anak. Soal berkeluarga, kami salah satu yang beruntung. Walau bukan tanpa cobaan. Kedua belah pihak keluarga kami akur dan sangat mendukung. Saya dan suami juga begitu. Intinya kami berbahagia.

Kadang saya ditanya apa resepnya. Saya balik bertanya, “bagaimana cara kamu dan pasangan bertengkar?” Yang ditanya balik biasanya menjawab dengan segala macam metode bertengkar. Namun jarang sekali yang menjawab dengan mencirikan bagaimana saya dan Fajar melakukannya. Saya dan Fajar bertengkar dengan cara berdiskusi. Mendiskusikan perbedaan pendapat kami sambil makan di cafe dan menyusun strategi mengatasi permasalahan. Tidak ada piring di banting, suara meninggi apalagi kekerasan. Kami sangat saling menghargai satu sama lain untuk melakukan kekerdilan macam itu. Dan saat kami begitu berbeda hingga tak mampu berbicara, kami tidak memaksakan pembicaraan itu terjadi sampai kami siap.

Begitulah seharusnya sebuah pernikahan bagi saya. Hidup membangun masa depan dengan orang yang kita cintai dengan mengatasi perbedaan. Untuk itu tidak diperlukan pengesahan dari setan gombal atau malaikat manapun. Hanya diperlukan kematangan, kedewasaan, akal sehat.

Saya kasihan melihat seorang teman di kantor yang banting tulang pergi ke segala penjuru tempat mencari cara agar dia bisa hamil padahal tidak ada masalah dengan kesuburan mereka berdua. Alasannya karena dia sudah menikah sekian tahun dan akan semakin memalukan kalau belum punya anak sampai sekarang. Jadi dia menikah untuk punya anak? Buat saya itu terdengar sempit sekali. Dia tanya bagaimana saya bisa punya anak 3 orang dalam jarak beruntun macam gerbong kereta. Saya bilang, karena saya melakukan hubungan seksual dengan suami saya. Saya sarankan sama dia untuk melupakan segala metode aneh-aneh yang dia cari dan segera membangun hubungan emosional yang baik dengan sang suami, lalu habiskan waktu berduaan dengan mesra dan penuh keinginan untuk saling memberi dan membahagiakan. Kan seperti saya baca celoteh para seksiolog bahw sex yang baik adalah sex yang merelaksasi, yang memberi kepuasan bagi kedua belah pihak baik jasmani maupun rohani. Saya rasa itu bukan omong kosong.

Sungguh saya tidak menentang pernikahan, karena saya toh adalah wanita menikah. Apalagi soal anak. Saya sejak dulu menginginkan anak-anak dalam kehidupan saya. Yang saya ingin gugah adalah konsep kita dalam membangun keluarga. Kebahagiaan keluarga kita tidak terletak di sebuah kertas terbitan institusi manapun. Tidak juga dari pandangan kaum, sekte, partai, si anu dan si itu yang sibuk berceloteh menilai dan mengatur dari luar sana. Saya percaya bahwa kebahagian teraih saat kita berhenti berbohong pada diri kita sendiri. Pegang teguh prinsip kita dan perjuangkan dengan damai. Damai bukan artinya terus-terusan mengalah kok.

Dan saat pernikahan anda diisi oleh anda dan pasangan seorang, bukan berarti anda tidak memiliki keluarga. Juga bukan berarti keluarga anda tidak lengkap. Keluarga seharusnya adalah hubungan harmonis antara anggotanya. Jika pasukannya lengkap tapi saling tusuk menusuk apa pantas disebut keluarga? Jadi tidak salahkan kalau saya bilang keluarga adalah urusan kualitas dan bukan kuantitas?

Saya Leonnie, wanita berkeluarga (bahagia) yang tidak percaya pada institusi pernikahan (dan aturan-aturan gombal buatan manusia yang mungkin tidak becus jadi anggota keluarga).

4 Comments »

  1. Kemaren saya dengan kurang cerdas telah terlibat sebuah thread Plurk yang awalnya bertanya: “Why did you get marry?”
    saya menjawab: “To protect my kids in the face of the law.” Persis seperti saya tulis post saya ini di bulan Agustus lalu.
    Rupanya jawaban saya memancing 2 pemuda Bandung yang kasarnya minta ampun. Umur mereka bukan umur remaja, gayanya seperti mereka sudah hidup lebih banyak pengalaman dari nenek moyang saya.
    Pertanyaan yang menurut saya bodoh, terlontar dari salah satunya: “Lalu mengapa anda tidak bercerai setelah itu, toh anak anda tetap sah dimata hukum”
    Lalu saya menjawab: “Karena saya tidak perlu melakukannya. Hubungan saya dengan suami tidak berubah, tidak perlu meniadakan sesuatu yang sudah dilakukan, apalagi jika pernikahan itu tidak berbahaya buat kami. Kami cukup terus menjalani kehidupan kami seperti biasa. Kami akan tetap bersama dengan atau tanpa pernikahan.”

    Mungkin bahasa Inggris saya kurang baik, atau memang sang pemuda kurang pandai membaca… dia tetap bersikeras bahwa pendirian saya adalah sebuah hal yang tidak pantas dan bahkan berbahaya untuk anak-anak saya.
    Saya jadi bingung……… anak-anak saya dilindungi dengan baik dengan sangat menyampingkan ego orang tua mereka. Anak-anak saya adalah anak-anak yang sejauh ini tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi karena mereka merasa hidup mereka aman bersama orang tua mereka. Orang tua mereka adalah dua mahluk yang mempraktekan cinta di hadapan mata mereka.
    Lalu jika kami dalam kesadaran penuh berkata bahwa hubungan kami adalah bergerak maju dan bukan ke belakang… kenapa memikirkan bercerai? Ya, bahkan pada saat kami percaya suatu hubungan romantis tidak memerlukan institusi pernikahan.

    Saya rasa kedua mahluk muda itu bukan saja kasar dan tak berbudaya karena segala ucapan tak beradab yang mereka layangkan kepada saya… Saya juga merasa mereka tidak lebih dari mahluk-mahluk setengah jadi. Lahir ke dunia hanya untuk menjadi seonggok daging tanpa kedewasaan. Sibuk menghakimi orang lain dengan kata-kata kasar, padahal mereka sendiri tidak mampu mengutarakan opini mereka tentang arti sebuah pernikahan. Dan yang pasti saya menilai mereka tidak cukup cerdas untuk dapat menerima perbedaan tanpa kekerasan.

    Mahluk muda, perbedaan adalah bagian dari hidup. Perbedaan adalah hal-hal yang membuat hidup menjadi kaya. Butuh kedewasaan dan juga sedikit kecerdasan untuk mampu menerima perbedaan dan melihat bahwa perbedaan bukan berarti meminta anda untuk berubah. Berbeda hanya……… berbeda.
    Tanpa mengerti itu, bagaimana dirimu akan menghargai orang lain dan seluruh dunia ini?

  2. Setuju. Ah, heran juga, masih adaaaa aja yg sekucluk mereka. Iya, itu namanya. Mereka keliatannya gak bodoh, cuma kucluk. Dan karena mereka anonimus, bahkan profilesnya gak banyak menjelaskan siapa atau APA mereka itu (entah manusia entah apalah), saya semakin yakin bahwa orang2 seperti mereka berdua sebaiknya dianggap gak ada. And like I said, they’re no humans talking to a lady that way.

  3. Hoh, ternyata yg saya baca tadi komen yg punya blog, ahahaha..
    Baru baca artikelnya dan…uhm, I was right when I said ‘lo gak Indonesia’. You’re different, sedikit ngawur untuk ukuran perempuan Indonesia, nilai2 yg kamu yakini dan jalani (soal cinta dan pernikahan) juga beda, and that’s…kereeeeenn…

  4. Berbeda adalah..berbeda. Tidak memaksa yang lain untuk berubah. Ngena banget. Itu mungkin yg jarang disadari oleh banyak orang. Saya sendiri dibesarkan di lingkungan yang tdk heterogen,kadang2 saya kaget jg melihat hal2 yg bbeda. Untungnya saya puna istri yg sudah advanced soal pluralisme:d

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>