Dibesarkan Oleh Media
Perbincangan soal si selebriti itu dan perseteruannya dengan media-media infotainment tidak menarik buat saya perhatikan sampai terdengar sebuah kalimat yang menurut saya sangat arogan bukan kepalang, “dibesarkan oleh media.” Begitu arogannya, cukup untuk menarik saya memperbarui blog yang sudah terlantar sedemikian lama ini.
Saya jadi teringat oleh sebuah artikel yang saya baca di sebuah majalah wanita yang sudah mengglobal franchise-nya, sekitar awal tahun 2000 lalu. Kalau tidak salah. Anyway, di artikel itu, sang penulis yang mewakili majalahnya bercerita bagaimana mereka melakukan sebuah eksperimen “membesarkan” sebuah figur.
Dipilihlah seorang wanita “bukan siapa-siapa” dan dipersiapkanlah sang wanita mulai dari perombakan total penampilan hingga pengetahuan-pengetahuan yang ia perlukan untuk menjadi seorang socialite sejati.
Wajahnya dipoles, rambutnya ditata ulang, pakaian dan semua hal yang menempel di tubuhnya didatangkan dari hasil karya mereka yang ternama dan dipastikan untuk membuat semua mata menoleh. Dan setelah semua lengkap, sang wanita dipastikan masuk ke dalam Daftar A, hadir di semua acara sosial papan atas dan direkam oleh semua kamera.
Mereka berhasil. Sang wanita socialite gadungan itu untuk sesaat berhasil menjadi kayaknya seorang Paris Hilton. Ia difoto dan foto-fotonya masuk ke semua halaman-halaman yang memajang foto-foto para selebriti dan kalangan milyuner. Namanya yang direka demi eksperimen tersebutpun ikut tercetak.
Sampai waktunya para memilik eksperimen itu mengumumkan semua rekayasa mereka. Pihak yang terkagum-kagum atas rancangan itu tidak lebih banyak dibanding dengan yang merasa bahwa itu adalah penipuan yang menjijikan. Sang wanitapun disebutkan sempat merasa terpojok karena disebut penipu.
Media memang mampu “membesarkan’ sebuah nama, menuliskan sebuah berita biasa untuk menjadi lebih bombastis. Namun sesungguhnya sebuah kredibilitas tetap diperlukan. Seorang “nobody” bisa dibuat begitu hebat di atas selembar koran atau di layar kaca, namun hanya mereka yang sungguh-sungguh dengan pencapaianlah yang mampu menggerakan publik dalam arti sesungguhnya.
Figur-figur yang memiliki pencapaian di bidangnya masing-masing boleh jadi menjadi besar secara publisitas oleh media. Tapi saya rasa besar di sana terkunci hanya pada kata “publisitas”, pencapaian mereka sering kali tidak terjadi oleh karena media.
Saya kini bertanya di dalam hati, sesungguhnya bagaimana media kita mengukur pencapaian mereka sendiri?








Powered by
Yang menyedihkan sebenarnya adalah bagaimana popularitas itu begitu didamba, bahkan oleh mereka-mereka yang maaf saya bilang gak punya pencapaian apa-apa.
Coba lihat nama-nama yang ditampilkan dalam acara-acara infotainment itu, seringkali aku koq bingung ini siapa yah ??? ternyata dia pembawa acara infotainment stasion televisi sebelah.
Bukannya menganggap hal itu bukan pencapaian, cuma rasanya koq ada banyak nama-nama yang sesungguhnya lebih layak untuk diperkenalkan ke publik karena pencapaian mereka …
Atau mungkin aku yang terlalu kuno yah, sampai nggak bisa melihat hal-hal seperti itu sebagai suatu pencapaian …
17 December 2009 at 2:29 am